Kualitas adalah sebab dari kuantitas.

Ketika ngomongin kualitas. Orang pasti akan bandingin dengan kuantitas. Kata nya gini, “Kualitas itu jauh lebih penting dari kuantitas”, “Ngapain gedein kuantitas kalau kualitas nya sampah”, “Buang-buang waktu aja utamain kuantitas, kualitas jauh di atas kuantitas”.

Padahal Kualitas adalah dampak dari kuantitas.

Jadi kuantitas dan kualitas tidak bisa di perbandingkan atau di sandingkan. Karena kualitas adalah efek dari kuantitas.

Kenapa bisa gitu?

23 Tahun usaha dakwah Rasulullah, hasilnya islam tersebar ke pelosok dunia.

Bukan waktu yang sedikit, 23 tahun yang di gunakan Rasulullah untuk berjuang dan berdakwah. Mengajak dan menyebarkan islam ke jazirah Arab dan keseluruh dunia. 23 tahun merupakan kuantitas, yang menghasilkan kualitas , 1,5 miliyar orang islam di seluruh dunia dan lebih dari 2 juta orang dari seluruh dunia pergi haji ke tanah suci setiap tahunnya.

10.000 kegagalan untuk 1 keberhasilan.

Kuantitas ada di dalam setiap lini kehidupan kita. Thomas Alva Edison, di katakan di forbes. 

“I have not failed 10,000 times. I have not failed once. I have succeeded in proving that those 10,000 ways will not work. When I have eliminated the ways that will not work, I will find the way that will work.”

Thomas Alva Edison

10.000 merupakan kuantitas percobaan atau usaha yang di lakukan oleh Thomas untuk mencapai satu keberhasilan penemuan.

300 lebih Video dalam 1 tahun, menghasilkan 6 juta subscriber Atta Halilintar.

Artinya hampir setiap hari channel youtube Atta Halilintar, mengupload video. Yang akhir membawa nya menjadi king of youtube Indonesia hari ini. 300 video dalam 1 tahun, merupakan kuantitas yang menghasilkan kualitas dengan 6 juta subscriber, sudah hidup mandiri dan menjadi pengusaha sukses di usia nya yang 23 tahun. 


Itu hanya sedikit contoh yang membuktikan bahwa kualitas itu adalah hasil dari kuantitas. Kualitas tidak akan pernah muncul tanpa ada kuantitas yang super. 

Berharap kualitas tapi meremehkan kuantitas, sama saja berharap kenyang tanpa makan.

Hidup ini tentang kuantitas, sejauh mana kita berjalan, bergerak, membuat, menghasilkan, beraksi di situlah titik kualitas.

Bukan soal kualitas, karena kualitas itu di luar dari kehendak kita. Bukan soal mendapatkan, bukan soal meraih, bukan soal mencapai. 

Tapi persoalan memberi, mengasihi, bergerak, beraksi, berjalan, berlari.

Selalu berdoa, bersyukur dan bekerja keras!


Jika anda merasa artikel ini menarik dan bermanfaat, silahkan bagikan ke lingkaran pertemanan anda, agar mereka dapat membaca artikel ini. Dan jangan lupa follow saya di medium untuk terus dapatkan tulisan seperti ini setiap minggunya.

Tolong Like dan Share ya !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *